Minggu, 26 Januari 2020

Penjabaran Mengenai Model SDLC ke 6

Model-Model SDLC


Spiral Model SDLC
Model Spiral SDLC adalah sebuat metode pengabungan antara Iterative Model dengan Waterfall Model.dengan penekanan yang tinggi pada analisis resiko yang akan di hadapi. Spiral model bertujuan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan pada saat pengembangan suatu sistem.

Fase Spriral Model SDLC :

Spiral model memiliki 4 fase utama yaitu : Identification, Design, Construct or Build, Evaluation and Risk Analysis

Identification

Pada fase ini bertujuan untuk mengumpulkan kebutuhan bisnis di dasar spiral, Dalam spiral berikutnya disebut sebagai produk deawsa. Identifikasi persyaratan sistem, persyaratan subsistem, persyaratan unit dilakukan pada fase ini. Fase ini juga mencakup komunikasi antar sistem analis dengan klien.
Design
Pada fase ini dimulai dengan desain konseptual di dasar spiral dan melibatkan
desain arsitektur, desain logis dari modul, desain produk fisik dan desain akhir
dalam spiral berikutnya.
Construct or Build
Pada fase ini  mengacu produksi produk perangkat lunak yang sebenarnya di setiap spiral.
Evaluation and Risk Analysis
Pada fase ini  mengidentifikasi, memperkirakan dan memantau kelayakan teknis dan risiko manajemen, seperti jadwal selip dan biaya lebih. Setelah pengujian sistem, akhir dari iterasi klien akan mengevaluasi produk yang sudah dibangun dan akan memberikan feedback.
by : Yelli Aliani

Penjabaran Mengenai Model SDLC ke 5

Model-Model SDLC


Iterative Model
Iterative dan Incremental development adalah kombinasi dari kedua desain iterative dan incremental, untuk sebuah development. Selama development lebih dari satu iterasi dari sebuah software development life cycle.
Kelebihan dari Iterative Model SDLC :
  • Beberapa fungsi dapat di kembangkan dengan cepat di awal pembuatan versi baru.
  • hasil yang di peroleh secara berkala
  • Kemajuan sebuah sistem dapat di ukur
  • Development software mudah di rencanakan
  • Biaya yang dikeluarkan kecil apabila ingin merubah requirement
  • Testing dan debugging selama proses iterasi lebih mudah.
  • Analisis resiko yang lebih baik
  • Mendukung perubahan requirement
  • Waktu operasional yang lebih singkat
  • Cocok untuk project besar
Kekurangan dari Iterative Model SDLC:
  • Membutuhkan resource yang cukup banyak
  • Meski biaya perubahan rendah, tetapi sangat tidak cocok untuk mengubah persayaratan
  • Memerlukan Perhatian manajemen
  • Permasalahan sistem arsitektur dan desain mungkin akan timbul, karena tidak semua persyaratan di tentukan di awal pengambangan sistem.
  • tidak cocok untuk project kecil
  • Kompleksitas manajemen
  • Membutuhkan tenaga ahli untuk analisis resiko yang timbul
by : Rima Suci Defriani

Penjabaran Mengenai Model SDLC ke 4

Model-Model SDLC


 Scrum SDLC Model 
Scrum merupakan suatu kerangka kerja. Jadi, bukannya menyediakan deskripsi rinci tentang bagaimana segala sesuatu yang harus dilakukan pada proyek seperti diserahkan kepada tim pengembangan perangkat lunak pada umumnya. Hal ini dilakukan supaya tim akan tahu bagaimana cara terbaik untuk memecahkan masalah
Element-Element dalam Scrum
Ada 3 elemen organisasi utama pada scrum yaitu product owner, Scrum master, dan the Scrum team.
  • Product Ownermewakili bisnis, pelanggan atau pengguna dan memandu tim ke arah pegembangan produk yang tepat.
  • Scrum Masterdapat dianggap sebagai pemersatu bagi product owner dan scrum team (developer, QA, technical wirter dll), membantu anggota tim menggunakan kerangka Scrum untuk menyelesaikan suatu project berdasarkan timeline yang ditentukan di awal.
  • Scrum Teammerupakan grup pengembang kecil biasanya terdiri dari 5-9 orang. Untuk projek yang sangat besar, pekerjaan biasanya dibagi dan didelegasikan ke grup-grup kecil
Scrum tepat digunakan saat kondisi:
  • Keperluan berubah dengan cepat
  • Tim programmer sedikit, yaitu 5-9 orang
  • Pelanggan tidak terlalu paham dengan apa yang diinginkan
Scrum memiliki prinsip yaitu:
  • Ukuran tim yang kecil melancarkan komunikasi, mengurangi biaya, dan memberdayakan satu sama lain
  • Proses dapat beradaptasi terhadap perubahan teknis dan bisnis
  • Proses menghasilkan beberapa software increment
  • Pembangunan dan orang yang membangun dibagi dalam tim yang kecil
  • Dokumentasi dan pengujian terus menerus dilakukan setelah software dibangun
  • Proses scrum mampu menyatakan bahwa produk selesai kapanpun diperlukan
Kelebihan Scrum antara lain:
  • Keperluan berubah dengan cepat
  • Tim berukuran kecil sehingga melancarkan komunikasi, mengurangi biaya dan memberdayakan satu sama lain
  • Pekerjaan terbagi-bagi sehingga dapat diselesaikan dengan cepat
  • Dokumentasi dan pengujian terus menerus dilakukan setelah software dibangun
  • Proses Scrum mampu menyatakan bahwa produk selesai kapanpun diperlukan
Kelemahan Scrum antara lain:
  • Developer harus selalu siap dengan perubahan karena perubahan akan selalu diterima.
by : Rima Suci Defriani

Penjabaran Mengenai Model SDLC ke 3

Model-Model SDLC
Waterfall SDLC                                                                                       
Waterfall adalah pendekatan SDLC paling awal yang digunakan untuk pengembangan perangkat lunak.

  1. Hal ini juga disebut sebagai model SDLC linear-sekuensial. Hal ini sangat sederhana untuk memahami
    dan menggunakanya dalam mengimplementasikan sebuah sistem. adapun langkah-langkah waterfal SDLC model ini yaitu :
  • Requirement Gathering and analysis – Mengumpulkan kebutuhan secara lengkap kemudian kemudian dianalisis dan didefinisikan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh program yang akan dibangun. Fase ini harus dikerjakan secara lengkap untuk bisa menghasilkan desain yang lengkap.
  • System Design – Desain dikerjakan setelah kebutuhan selesai dikumpulkan secara lengkap
  • Implementation – Desain program diterjemahkan ke dalam kode-kode dengan menggunakan bahasa pemrograman yang sudah ditentukan. Program yang dibangun langsung diuji baik secara unit.
  • Integration and Testing – Penyatuan unit-unit program kemudian diuji secara keseluruhan (system testing)
  • Deployment of system – Mengoperasikan program dilingkungannya dan melakukan pemeliharaan, seperti penyesuaian atau perubahan karena adaptasi dengan situasi sebenarnya.
  • Maintenance – Proses pemeliharaan sistem yang sudah dibangun
Kelebihan Waterfall Model
Keuntungan dari Waterfall model adalah Jadwal dapat diatur dengan tenggat waktu untuk setiap tahap pengembangan dan produk dapat dilanjutkan melalui proses pengembangan model fase satu per satu. Pembangunan bergerak dari konsep, melalui desain, implementasi, pengujian, instalasi, pemecahan masalah, dan berakhir di operasi dan pemeliharaan

Berikut Keuntungan lainya dari Waterfall Model :
  • Simple, mudah dimengerti dan di implemetasikan
  • Mudah untuk mengelola karena model yang sederhana. Setiap fase memiliki spesifik requirement dan proses review
  • Fase diproses dan diselesaikan satu per satu
  • Cocok untuk project skala kecil dimana kebutuhan project dapat mudah dimengerti
  • Jelas dalam mendefinisikan setiap tahap
  • Mudah menentukan pencapaian suatu sistem
  • Mudah dalam menentukan tugas setiap individu
  • Proses pendokumentasian lebih mudah.
Kekurangan Waterfall Model :
Kerugian dari Waterfall model adalah tidak memungkinkan banyak refleksi atau revisi. Setelah aplikasi dalam tahap pengujian, sangat sulit untuk kembali dan mengubah sesuatu yang tidak terdokumentasi dengan baik atau pikiran pada dalam tahap konsep.
Berikut Kerugian lainya dari Waterfall Model:
  • Aplikasi yang dihasilkan cenderung lama karena step-step tidak dapat dilongkap
  • Resiko yang tinggi karena proses nya terlalu lama
  • Tidak cocok untuk project yang terlalu complex dan Object Oriented Projects
  • Tidak cocok untuk project jangka lama dan untuk project yang sedang berjalan
  • Tidak cocok untuk project yang mudah berganti-ganti model proses
  • Sulit untuk mengukur kemajuan dalam tahap
  • Integrasi dilakukan sebagai “big-bang. Di akhir, yang tidak memungkinkan mengidentifikasi setiap teknologi atau bisnis hambatan atau tantangan awal.
by : Rima Suci Defriani

Penjabaran Mengenai Model SDLC ke 2

Model-Model SDLC

Agile SDLC         
 Agile development adalah sebuah filosofi dan serangkaian panduan untuk mengembangkan sistem informasi di dalam lingkungan yang sering berubah dan dapat digunakan dengan metodologi pengembangan sistem apapun. Metodologi agile adalah sebua filosofi tentang bagaimana membangun model, beberapa diantaranya formal dan detil, namun yang lainnya hanya berupa sketsa dan sangat ringkas.
Nilai-nilai dari Agile Developement
Filosofi agile menggunakan pendekatan yang fleksibel terhadap jadwal proyek dan memberikan kesempatan bagi tim proyek
untuk merencanakan dan menjalankan pekerjaan mereka sesuai dengan perkembangan proyek. Filosofi utama dalam pengembangan agile adalah :
1. Value responding to change over following a plan
2. Value individuals and interactions over processes and tools
3. Value working software over comprehensive documentation
4. Value customer collaboration over contract negotiation
Pemodelan agile bukan berarti melakukan pemodelan lebih sedikit namun membuat pemodelan yang tepat untuk tujuan yang tepat pada level tertentu. Pemodelan agile tidak menentukan model mana yang harus dibuat dan bagaimana membuat model tersebut. Sebaliknya, pemodelan agile hanya membantu pengembang untuk tetap pada jalurnya dengan pemodelan yang mereka buat sebagai alat untuk mencapai tujuan namun bukan tujuan akhirnya. Prinsip pemodelan agile berikut mengindikasikan membangan model adalah teknik yang utama dalam pengembangan software namun model adalah sarana bukan tujuan.
1. Membangun software sebagai tujuan utama
2. Menjalankan usaha berikutnya sebagai tujuan sekunder
3. Meminimalkan kegiatan pemodelan – sedikit dan sederhana
4. Merangkul perubahan dan perubahan bertahap
5. Membuat model dengan tujuan
6. Membuat beberapa model
7. Membuat model dengan kualitas baik dan mendapatkan umpan balik
8. Fokus pada isi daripada tampilan
9. Belajar dari yang lain dengan komunikasi terbuka
10. Mengetahui model yang dibuat dan cara menggunakannya
11. Beradaptasi pada kebutuhan proyek yang spesifik
by:Yelli Aliani

Penjabaran Mengenai Model SDLC ke 1

 Model - Model SDLC

Tradisional SDLC SDLC tradisional adalah metode pengembangan sistem informasi klasik yang mengikuti suatu pola teratur secara bertahap
yang dikerjakan dari atas ke bawah. SDLC tradisional seringkali disebut pendekatan waterfall. Aktivitas dalam siklus
ini memiliki aliran satu arah menuju penyelesaian proyek. Tahapan dalam SDLC tradisional adalah sebagai berikut :
  1. Perencanaan
  2. Analisis
  3. Perancangan
  4. Implementasi
  5. Penggunaan

  1. Perencanaan
Sasaran Tahap perencanaan adalah diperolehnya cakupan dari proyek pengembangan sistem dan dasar-dasar untuk kendali.
Tahap perencanaan terdiri dari :
  • Menyadari adanya masalah atau pemicu masalah
  • Menetaplan masalah
  • Mengidentifikasi kendala sistem
  • Membuat studi kelayakan

  1. Analisis
Tujuan dari tahap analisis adalah memahami permasalahan secara menyeluruh dan mendefinisikan kebutuhan pemakai (apa yg harus dilakukan oleh sistem utk memenuhi keinginan pemakai). Tahap analisis terdiri dari :
  • Mengumumkan penelitian sistem
  • Mengorganisasik tim proyek
  • Mendefinisikan kebutuhan informasi
  • Mendefinisikan kriteria kinerja sistem
  • Menyiapkan usulan perancangan
  • Menerima atau menolak perancangan

  1. Perancangan
Tujuan dari tahap perancangan adalah menentukan solusi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi pemakai yang sudah didefinisikan dan membuat suatu model implementasi yang akan dibangun kemudian. Tahap perancangan terdiri dari :
  • Menyiapkan perancangan sistem rinci
  • Mengidentifikasi alternatif konfigurasi sistem
  • Mengevaluasi alternatif konfigurasi sistem
  • Memilih konfigurasi terbaik
  • Menyiapkan usulan penerapan
  • Menyetujui atau menolak penerapan sistem

  1. Implementasi
Tujuan tahap implementasi adalah mendapatkan sistem informasi sesuai dengan kebutuhan pemakai.
Tahapan implementasi tesdiri dari :
  • Merencanakan penerapan
  • Mengumumkan penerapan
  • Mendapatkan sumber daya HW
  • Mendapatkan sumber daya SW
  • Menyiapkan basis data
  • Menyiapkan fasilitas fisik
  • Pelatihan pemakai
  • Masuk/peralihan ke sistem baru

  1. Penggunaan
Tujuan tahap penggunaan adalah menjaga agar sistem tetap beroperasi secara normal, dapat mengantisipasi penyimpangan yang mungkin dialami sistem dan melakukan evaluasi sistem.

by : Rima Suci Defriani

Penjabaran Mengenai Model Proses ke 4


MODEL PROSES PERANGKAT LUNAK

 
    Model Evolutionary Development / Evolutionary Software Process Models
Model Evolutionary Development bersifat iteratif (mengandung perulangan). Hasil prosesnya berupa produk yang makin lama makin lengkap sampai versi terlengkap dihasilkan sebagai produk akhir dari proses. Model Evolutionary Development / Evolutionary Software Process terbagi menjadi 2, yaitu :
  1. Model Incremental
Model Incremental merupakan hasil kombinasi elemen-elemen dari model waterfall yang diaplikasikan secara berulang, atau bisa disebut gabungan dari Model linear sekuensial (waterfall) dengan Model Prototype. Elemen-elemen tersebut dikerjakan hingga menghasilkan produk dengan spesifikasi tertentu kemudian proses dimulai dari awal kembali hingga muncul hasil yang spesifikasinya lebih lengkap dari sebelumnya dan tentunya memenuhi kebutuhan pemakai.

Model ini berfokus pada penyampaian produk operasional dalam Setiap pertambahanya. Pertambahan awal ada di versi stripped down dari produk akhir, tetapi memberikan kemampuan untuk melayani pemakai dan juga menyediakan platform untuk evaluasi oleh pemakai. Model ini cocok dipakai untuk proyek kecil dengan anggota tim yang sedikit dan ketersediaan waktu yang terbatas.
Kelebihan Model Incremental :
  • Personil bekerja optimal.
  • mampu mengakomodasi perubahan secara fleksibel, dengan waktu yang relatif singkat dan tidak dibutuhkan anggota/tim kerja yang banyak untuk menjalankannya.
  • Pihak konsumen dapat langsung menggunakan dahulu bagian-bagian yang telah selesai dibangun. Contohnya pemasukan data karyawan.
  • Mengurangi trauma karena perubahan sistem. Klien dibiasakan perlahan-lahan menggunakan produknya setiap bagian demi bagian.
  • Memaksimalkan pengembalian modal investasi konsumen.
  • Kekurangan Model Incremental :
  • Tidak cocok untuk proyek berukuran besar (lebih dari 200.000 baris coding).
  • Sulit untuk memetakan kebutuhan pemakai ke dalam rencana spesifikasi tiap-tiap hasil dari increament.


2. Model Spiral / Model Boehm
Model ini mengadaptasi dua model perangkat lunak yang ada yaitu model prototyping dengan pengulangannya dan model waterfall dengan pengendalian dan sistematikanya.  Model ini dikenal dengan sebutan Spiral Boehm. Pengembang dalam model ini memadupadankan beberapa model umum tersebut untuk menghasilkan produk khusus atau untuk menjawab persoalan-persoalan tertentu selama proses pengerjaan proyek.

Tahap-tahap model ini dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut :
  • Tahap Liason:pada tahap ini dibangun komunikasi yang baik dengan calon pengguna/pemakai.
  • Tahap Planning (perencanaan):pada tahap ini ditentukan sumber-sumber informasi, batas waktu dan informasi-informasi yang dapat menjelaskan proyek.
  • Tahap Analisis Resiko:mendefinisikan resiko, menentukan apa saja yang menjadi resiko baik teknis maupun manajemen.
  • Tahap Rekayasa (engineering):pembuatan prototipe.
  • Tahap Konstruksi dan Pelepasan (release):pada tahap ini dilakukan pembangunan perangkat lunak yang dimaksud, diuji, diinstal dan diberikan sokongan-sokongan tambahan untuk keberhasilan proyek.
  • Tahap Evaluasi:Pelanggan/pemakai/pengguna biasanya memberikan masukan berdasarkan hasil yang didapat dari tahap engineering dan instalasi.
  • Kelebihan model iniadalah sangat mempertimbangkan resiko kemungkinan munculnya kesalahan sehingga sangat dapat diandalkan untuk pengembangan perangkat lunak skala besar. Pendekatan model ini dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sangat baik dengan menggabungkan model waterfall ditambah dengan pengulangan-pengulangan sehingga lebih realistis untuk mencerminkan keadaan sebenarnya. Baik pengembang maupun pemakai dapat cepat mengetahui letak kekurangan dan kesalahan dari sistem karena proses-prosesnya dapat diamati dengan baik.
  • Kekurangan model iniadalah waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan perangkat lunak cukup panjang demikian juga biaya yang besar. Selain itu, sangat tergantung kepada tenaga ahli yang dapat memperkirakan resiko. Terdapat pula kesulitan untuk mengontrol proses. Sampai saat ini, karena masih relatif baru, belum ada bukti apakah metode ini cukup handal untuk diterapkan.
3.       WINWIN Spiral Model

Dalam hal ini win win merupakan situasi kemenangan antara tim pengembang dan pelanggan. Yang membedakan antara win win spiral model dan spiral model adalah setelah selesai mendapatkan feed back dari pelanggan, tim pengembang perangkat lunak dan pelanggan akan kembali melakukan negosiasi untuk perkembangan perangkat lunak tersebut.
Tahapan-tahapan WINWIN Spiral model:
  1. Identifikasi kunci sistem atau subsistem dari yang berkepentinagn
  2. Penentuan kondisi kemenangan dari yang berkepentingan
  3. Negosiasi kondisi menang yang berkepentingan agar terjadi kedamaian.
Berikut ada beberapa kelebihan dan kekurangan WINWIN Spiral Model
Kelebihan :

1.       Sama sama adanya kesepakatan developer dengan customer
2.       Terdapat kepuasan dan keuntungan antara developer dengan customer karena aplikasi yang dijalankan dengan negoisasi sesuai kesepakatan
3.       Sangat efektif untuk digunakan karena kesepakatan antara developer dengan customer sama-sama disepakati sehingga tidak akan menimbulkan ketidak puasan customer

Kekurangan :
1.       Membutuhkan waktu yang cukup lama2.Seringkali pada awalnya customer dengan developer mengalami kecekcokkan pada saat negoisasi

5.       Component Based Development
Component-based development sangat berkaitan dengan teknologi berorientasi objek. Pada pemrograman berorientasi objek, banyak class yang dibangun dan menjadi komponen dalam suatu software. Class-class tersebut bersifat reusable artinya bisa digunakan kembali. Model ini bersifat iteratif atau berulang-ulang prosesnya.
Secara umum proses yang terjadi dalam model ini adalah:
1.       Identifikasi class-class yang akan digunakan kembali dengan menguji class tersebut dengan data yang akan dimanipulasi dengan aplikasi/software dan algoritma yang baru
2.       Class yang dibuat pada proyek sebelumnya disimpan dalam class library, sehingga bisa langsung diambil dari library yang sudah ada. Jika ternyata ada kebutuhan class baru, maka class baru dibuat dengan metode berorientasi objek.
3.       Bangun software dengan class-class yang sudah ditentukan atau class baru yang dibuat, integrasikan.

Penggunaan kembali komponen software yang sudah ada menguntungkan dari segi:
1.      Siklus waktu pengembangan   software, karena   mampu  mengurangi  waktu 70%
2.      Biaya produksi berkurang sampai 84% arena pembangunan komponen berkurang

Pembangunan software dengan menggunakan komponen yang sudah tersedia dapat menggunakan komponen COTS (Commercial off-the-shelf) – yang bisa didapatkan dengan membeli atau komponen yang sudah dibangun sebelumnya secara internal. Component-Based Software Engineering (CBSE) adalah proses yang menekankan perancangan dan pembangunan software dengan menggunakan komponen software yang sudah ada. CBSE terdiri dari dua bagian yang terjadi secara paralel yaitu software engineering (component-based development) dan domain engineering. 

Berikut adalah beberapa kekurangan dan kelebihan dari Component Based Development           :
A.     Kelebihan model ini adalah tinggal mencaplok atau menggunakan program atau komponen yang sudah ada dan menyusunnya menjadi sebuah program yang lebih kompleks dan berkembang sesuai dengan kebutuhan user/pengguna sehingga dapat mengefisienkan penggunaan waktu dan tenaga.Selain itu,model ini juga menyediakan kemampuan untuk memvisualisasikan hasil rakitan dengan kesanggupan untuk mengukur, menganalisa, merancang dan merancang ulang program.
B.     Kekurangan model ini adalah seringnya program atau komponen-komponen terdahulu tidak kompatibel atau sejalan dengan model perakitan komponen ini sehingga untuk perusahaan berskala kecil akan kesulitan menemukan komponen yang sesuai untuk dirakit.

6.      Formal Method Model
Teknik formal method adalah teknik yang mengandalkan perhitungan matematika dalam setiap prosesnya. Hanya digunakan pada sistem yang sangat memperhatikan keamanan atau keselamatan dari pengguna. Contoh penggunaan teknik ini adalah aerospace engineering.

Keuntungan menggunakan teknik formal method adalah meminimalkan resiko dengan adanya perhitungan komputasi.

Sedangkan kerugiannya adalah:
1.      Biaya Tinggi.
2.      Kompleks
3.      Tidak Umum untuk Proyek Software pada umumnya

7.      4th Generation
Metode pengembangan perangkat lunak 4GT menggunakan perangkat bantu (tools) yang akan membuat kode sumber secara otomatis berdasarkan spesifikasi dari pengembang perangkat lunak. Hanya digunakan untuk menggunakan perangkat lunak yang menggunakan bahasa khusus atau notasi grafik yang diselesaikan dengan syarat yang dimengerti pemakai. Cakupan aktivitas 4GT meliputi:
  1. Pengumpulan kebutuhan, idealnya pelanggan akan menjelaskan kebutuhan yang akan ditranslasikan ke prototype operasional.
  2. Translasi kebutuhan menjadi prototype operasional, atau langsung melakukan implementasi secara langsung dengan menggunakan bahasa generasi keempat (4GL) jika aplikasi relatif kecil.
  3. Untuk aplikasi yang cukup besar, dibutuhkan strategi perancangan sistem walaupun 4GL akan digunakan.
  4. Pengujian.
  5. Membuat dokumentasi.
  6. Melaksanakan seluruh aktivitas untuk mengintegrasikan solusi-solusi yang membutuhkan paradigma rekayasa perangkat lunaklainnya.
Kelebihan dari metode pengembangan perangkat lunak ini diantaranya :
  • Pengurangan waktu dan peningkatan produktivitas secara besar
  • Karena 4GT menggunakan 4GL yang merupakan bahasa pemrograman yang  khusus dirancang dengan tujuan tertentu (spesifik), maka untuk permasalahan yang tertentu dengan 4GL tertentu pula sangat tepat menggunakan 4GT.
  • Tool yang menggunakan metode pengembangan perangkat lunak4GL bisa meng-generate sistem dari output yang dihasilkan oleh CASE tools.
Kekurangan metode pengembangan perangkat lunak ini
  • Penggunaan perangkat bantu (tools) dibandingkan dengan bahasa pemrograman, dan juga kode sumber yang dihasilkannya tidak efisien.
  • Untuk usaha yang besar, dibutuhkan pengembangan strategi desain untuk sistem, walau digunakan bahasa 4GL.
  • Penggunaan 4GT tanpa perencanaan matang (untuk proyek besar) akan menyebabkan kesulitan yang sama (kualitas dan pemeliharaan yang jelek, ketidakpuasan pelanggan) seperti dengan metode konvensional.
  • 4GL tidak selalu berhasil menghasilkan sistem yang diinginkan.

 by : Yelli Aliani

PROJECT (RPL)

Soal 1.       Gambarkan Sistem Yang Sedang Berjalan dan Sistem yang diusulkan 2.       Analisis Kebutuhan 3.       Model Pengembangan...